Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2008

Ponpes Roudlotul Fatihah

Pondok Pesantren ini cukup unik. Bentuknya lain dengan pondok pesantren pada umumnya. Berbentuk limasan yang terbuat dari kayu jati. Penduduk sekitar juga mengenalnya dengan sebutan pondok pesantren Limasan Jati. Dengan luas kurang lebih 3 ribu meter persegi, bangunan tersebut terletak di Kulon Gunung Sentono, Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Tempat ini dibangun oleh Fuad Riyadi. Selain membangun, ia juga dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren tersebut. Sebelumnya, mereka menempati rumah sewa di daerah Wonokromo, Bantul. Saking banyaknya orang yang mengaji, dan karena keinginan untuk mempunyai tempat sendiri, maka Fuad memutuskan untuk membeli sebidang tanah. Tanah tersebut terletak di tengah sawah.

Saat gempa memporak-porandakan Bantul, daerah tersebut termasuk salah satu daerah yang paling parah. Banyak reruntuhan bangunan bertebaran di tepi-tepi jalan. Ketika proses tanggap darurat mulai berlangsung, masyarakat kesulitan untuk membuang reruntuhan. Mereka mendapat ide untuk mengumpulkan reruntuhan di sebidang tanah milik Fuad.

Pria berusia 37 tahun itu ternyata tidak keberatan. Ide tersebut ia sambut secara hangat. Sesaat kemudian, banyak reruntuhan bangunan yang mampir di tanah kosong tersebut. Bersamaan dengan itu, guru bahasa Indonesia SMA 2 Banguntapan, Bantul memang berniat untuk sesegera mungkin membangun pondok pesantren.

Ide cemerlangpun datang. Daripada membuang semua sisa reruntuhan, ada baiknya untuk dipergunakan. Banyak batu bata yang masih bagus kondisinya. Sisa-sisa kayu juga tersedia. Alangkah lebih baik jika dipergunakan secara maksimal. Tak lama berselang, ide tersebut ia lakukan.

Alhasil, saat ini telah berdiri bangunan yang menggugah minat banyak orang. Selain menimba ilmu agama, banyak orang yang terkagum dengan bentuk bangunan yang berbentuk limasan. Ini ditunjang dengan suasana alam pedesaan yang berhawa nyaman dan pemandangan yang cukup memikat hati.

Ia menyiapkan bangunan pondok pesantren yang gampang dikenali orang. “Selain itu harus akrab dengan lingkungan sekitar dan artistik,” ujar mantan sastrawan terkenal tersebut. Ia mengatakan, bahwa pondok tersebut untuk menjadi rumah singgah bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu agama. Tidak mempedulikan status sosial dan kecenderungan politik seseorang.

Siapa saja yang belajar di sana tidak dipungut biaya sepeserpun. Biasanya, pengajian di mulai setelah sholat isya’. Tak hanya santri yang bisa menuntut ilmu di sana, bahkan orang yang bukan santri diperkenankan untuk menimba ilmu. Mereka yang biasa datang ke pondok dan tidak bermukim di lingkungan pondok disebut santri laju.

Jumlah santri laju ini mendekati 300 orang. Sedangkan jumlah santri mukim kuranglebih 30 orang. Tak ada beban biaya yang dikenakan kepada santri mukim dan santri laju ini. Semuanya gratis tanpa pungutan sepeserpun. Bahkan sesuai denga kebiasaan, setelah pengajian terlaksana, para santri biasanya makan bersama.

Makanan ini disediakan oleh pondok pesantren. Bermacam ragam menu tersedia. Paling tidak hal ini membangkitkan semangat belajar. Tak hanya gelaran makan bersama yang dinanti, para santri juga diajak diskusi mengenai perkembangan keadaan. Diskusi tak hanya terbatas pada ilmu agama, tapi juga kewirausahaan, politik dan juga ilmu alih teknologi. Keadaan inilah yang menjadi daya tarik sendiri bagi pondok pesantren Roudlotul Fatihah ini.

SATE KLATHAK

Tangan Ardani lincah mengiris daging kambing menjadi potongan-potongan kecil. Setiap
delapan irisan daging, ia tancapkan pada satu jeruji roda sepeda. Setelah dicelupkan beberapa lama di sebuah wadah berisi bumbu, irisan daging itu dipanggangnya di atas tungku. Agar api pada tungku tetap menyala, ia sengaja menyiapkan sebuah kipas angin berukuran kecil.

Lima tahun sudah, Ardani membuka warung sate klathak ini. Selain karena menggunakan jeruji sepeda, bumbu yang digunakan juga cukup khas. Bumbunya cukup sederhana. Hanya ada bawang putih dan garam. Namun, rasanya sungguh gurih dan lezat. Tak lalah dengan aroma rasa sate yang biasanya.

Sebelumnya, pria berusia 32 tahun ini diajari sang kakak yang sudah lebih dulu membuka warung sate. Setelah beberapa bulan belajar dan telah cukup modal, ia membuka usahanya sendiri. Ia menyewa sebidang tanah di tepi jalan Imogiri Timur, tak jauh dari usaha warung sate milik sang kakak.

Ia harus merogoh kocek Rp 1,3 juta per tahun untuk tanah berukuran 9 x 5 meter itu. “Kebetulan tanah itu punya saudara saya sendiri,” kata Ardani. Lantas. Di atas tanah itu ia mendirikan bangunan untuk warung satenya. Dindingnya dari batako, beratapkan seng. Bangunan tersebut kelihatan baru. Pasalnya, warung itu luluh lantak terkena gempa setahun lalu.

Ia lalu membenahinya sendiri. Menghabiskan dana kurang lebih Rp 7 juta. “Belum ada bantuan pemerintah, mas,” katanya. Ia menambahkan, untuk kegiatan perekonomian, pemerintah belum memberikan bantuan sedikitpun. Ini berbeda dengan rumahnya. Meski dihajar gempa, kini rumahnya sudah berdiri lagi berkat bantuan dari pemerintah.

Ardani mengaku, tiap hari selalu membutuhkan satu ekor kambing untuk warungnya. Seekor kambing bisa dijadikan 100 porsi. Ia pasang harga Rp 10 ribu untuk tiap porsinya. Pada tiap porsinya berisikan dua buah tusuk sate dan sepiring nasi. Bisa juga ditambah dengan sepiring kuah tongseng.

Meski hanya berisikan 2 buah tusuk jeruji sate, tidak berarti mengurangi kenikmatan sate yang bakal di santap. Dagingnya lumayan besar. Rasanya juga cukup gurih. Tak ada sama sekali tambahan bumbu kecap seperti layaknya sate biasanya. Rasa gurih ini didapat langsung dari daging kambing, tanpa olahan bumbu. “Gurihnya berasal dari minyak kambing itu sendiri,” kata Ardani.

Daging kambing yang ia beli adalah daging kambing pilihan. Untuk warung sate klathaknya ini, ia khusus membeli daging kambing gembel. Usianya tak lebih dari 3 bulan. Ia sengaja tak memilih daging kambing jawa. “Bau daging kambing jawa itu prengus (bau tak enak-red),” tambah pria yang saat ini telah dikarunai 2 orang anak ini.

Untuk sate klathak ini, Ardani membutuhkan kambing yang baunya tidak menyengat. Selain itu, ia tak bisa sembarangan menusuk daging ke jeruji sepeda. Perlu keahlian tersendiri. Sebelum di tusuk, daging tersebut di buang kulit arinya. Kulit ari daging kambing gembel ini dipercaya bisa membuat dagingnya tahan lama.Selain itu, perlu diperhatikan alur serat daging yang akan dipanggang. Ini untuk menghindari kerasnya daging ketika akan ditusuk.

Ardani mengaku, tiap hari ia menghabiskan satu ekor kambing. Ia buka warung satenya dari pagi hari, pukul 9 pagi hingga menjelang tengah malam. Tergantung habisnya daging yang ia sediakan. Namun, biasanya warung ini tutup hingga jam 12 malam. Apalagi, saat hari libur.

Ardani menjalankan warung ini tak sendirian. Ia dibantu oleh 5 orang karyawan, yang secara bergantian menjaganya. Usaha yang dijalankan Ardani merupakan usaha keluarga. Secara turun temurun, usaha membuak warung sat telah dijalani keluarganya puluhan tahun lalu.

Pertama, yang melakoni usaha ini adalah sang kakek, yang kebetulan penduduk setempat. Profesi ini kemudian menurun ke orang tuanya dan dilanjutkan oleh si Ardani dan kakaknya. Dengan nama warung sate “Pak Nyong”, Ardani mulai kebanjiran pengunjung. Warungnya terletak di tepi jalan Imogiri Timur Km 10, Jejeran, Wonokromo, Kecamatan Pleret, Bantul.

Penulisan Feature; Fakta Dalam Balutan Sastrawi

Tak ada yang bisa merumuskan, kapan tepatnya bentuk tulisan feature diketemukan. Namun satu yang pasti, di Indonesia genre penulisan ini mulai dikenal seiring tumbuh dan berkembangnya majalah TEMPO, besutan Goenawan Muhammad.

Penulisan feature lebih merupakan gaya penulisan yang diharapkan untuk menggugah emosi pembaca. Pemilihan kata-kata serta pilihan tema menjadi sangat penting. Alur yang digunakan sekilas tampak seperti alur cerita, mungkin jika bisa kita kategorikan hal tersebut sebagai alur yang ada dalam cerita pendek (cerpen). Pemilihan kata dengan menganut alur sastrawi menjadi panduan bagi orang-orang yang ingin menulis feature. 

Penggunaan alur sastrawi bukan berarti menghilangkan fakta sebenarnya dari apa yang kita tulis. Seperti layaknya penulisan lain, fakta tetap menjadi sesuatu yang harus dinomorsatukan. Fakta tersebut diketemukan oleh seorang jurnalis ketika ia telah melakukan reportase. 

Penulisan dengan menggunakan model ini kerap dipergunakan dengan satu tujuan. Biasanya pendekatan kemanusiaan yang menjadi tujuan penulisan feature ini. Tema yang biasa disodorkan bagi penulisan jenis ini adalah sesuatu yang dekat dengan kenyataan hidup. Biasanya kehidupan ‘kaum bawah’ menjadi pilihan tepat. 

Selain tema tersebut, ada pula laporan yang biasa mempergunakan jenis penulisan ini. Biasanya laporan perjalanan juga merujuk pada penulisan feature. Misalnya, laporan perjalanan ke suatu tempat (daerah), yang tentu saja memerlukan deskripsi yang kuat.

Namun bukan berarti penulisan feature lepas dari pakem jurnalistik. Metode 5W + 1H (What, When, Where, Who, Why, dan How), tetap menjadi elemen penting. Ini berguna untuk mendeskripsikan suatu obyek yang akan dituju. Karakter majalah atau koran yang mengandalkan tulisan, membuat kelihaian deskripsi terhadap obyek menjadi sesuatu yang berharga.

Penulisan Feature Mengandalkan Deskripsi
Deskripsi penulisan menjadi sesuatu yang lazim. Karakter majalah atau koran yang notebene non visual, menjadikan deskripsi terhadap obyek menjadi penting. Tujuannya tentu agar pembaca mengerti, minimal mengetahui obyek yang kita tuju.

Deskripsi terhadap obyek meliputi beberapa hal. Jika itu menyangkut orang, maka harus jelas personifikasinya. Misal, orang tersebut umurnya berapa, dimana ia bekerja, berapa anaknya dll. Pendek kata, pembaca disodorkan kejelasan mengenai orang tersebut. Begitu pula dengan obyek lain, misalnya tempat. Pembaca juga harus disodori pengetahun tentang kejelasan tempat tersebut.

Deskripsi ini menjadi penting, karena menyangkut kelengkapan sebuah berita. Bisa diistilahkan bahwa deskripsi ini sebagai bumbu sebuah tulisan, agar ‘rasanya’ tidak hambar. Deskripsi seperti ini tidak akan banyak diketemukan dalam penulisan model straight news. 

Yang juga patut dijadikan perhatian bagi penulis pemula, adalah mengenai teknis penulisan feature. Menulis feature hendaknya menggunakan bahasa yang lincah, ringan, runut, dan mudah dimengerti. Bayangkan, betapa indahnya jika pesan tulisan bisa disimak semua kalangan dengan bahasa yang gampang ketimbang hanya dimengerti sebagian kalangan lantaran bahasanya yang rumit dan kerap mencomot istilah asing.  

Yang tak kalah penting, pemilihan judul untuk penulisan feature berbeda sama sekali dengan tulisan straight news. Untuk judul tulisan feature sebaiknya tak langsung menunjukkan masalah, tidak terlalu provokatif, lebih baik lagi yang bisa membuat pembaca tergelitik. Bagi penulis, mencari judul terkadang sama repotnya dengan dengan mengawali sebuah tulisan.

Senin, 01 September 2008

Keperkasaan Media Ditengah Ketidakberdayaan Kita

Media masa adalah sebuah karakter yang unik dan memiliki dimensi yang kompleks. Pertautan itu menimbukan asumsi bahwa media merupakan kelompok sosial tersendiri yang mempunyai kekuatan, mampu mengkonstruksi realitas bahkan bisa menghegemoni khalayak melalui informasi, iklan dan tayangannya. 

Kekuatan media sebenarnya terletak pada posisinya yang sangat strategis, dia bisa menjadi lokus/ wilayah/ sekedar mempertukarkan informasi, namun sebaliknya bisa pula menjadi agen perubahan. Penjelasan ini memungkinkan, jika kita kembali mengkaji kebijakan (politik pemberitaan) sebuah media. Atau jika kita memasuki wacana ilmu komunikasi, secara metodologis kesemuanya itu bisa dijelaskan melalui analisa isi.

Mengkaji media, tak bisa lepas dari bias keberpihakan. Mustahil media bisa lepas dari keberpihakan, mengingat media adalah sebuah bangunan yang sistemik dan tak bisa lepas dari lingkungan atau kelompok sosial yang lain. Keberpihakan inilah yang pada akhirnya menimbukan ‘pertarungan’. Pertarungan bisa saja didasari oleh kepentingan masing-masing media. Kepentingan itulah yang kita sadari bisa membawa khalayak ke arah konflik.


Konteks Indonesia: Bisakah Masyarakat Menjadi Khalayak Aktif?

James Lull mendiskripsikan, bahwa informasi yang ditawarkan media yang mempunyai kepentingan ideologis, tidak dimakan ‘mentah-mentah’, namun diapresiasi kembali oleh masyarakat, diinterprestasi kembali oleh masyarakat. Dan itulah yang disebut realitas. Masyarakat demikianlah, yang disebut khalayak aktif. Media dalam hal ini adalah sebuah meme (memiliki daya kekuatan dari dalam dirinya untuk menulari lingkungan).

Konteks tersebut yang bisa kita kaji kembali. Terutama dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia. Dimensi sosiologis menitikberatkan pada gerakan rasio dan kesepahaman dalam memaknai realitas. Realitas yang dipakai oleh kebanyakan masyarakat Indonesia adalah realitas yang ada di media. Sikap skeptis belum tertanamkan secara sistematis. Kontroversi inilah yang bisa dijadikan tolok ukur, apakah sebenarnya media yang ada di Indonesia menghegemoni khalayak?

Pertarungan wacana pada media kita, masih berkutat pada persoalan elit, dan merupakan representasi dari ‘idiom demokrasi’ versi negara yang mempunyai kekuatan dominan dalam mengirimkan arus informasi. Maka kita tak heran jika kita akan dijejali oleh pemberitaan menganai pertarungan politik di DPR/MPR maupun hiburan tentang telenovela, sinetron dan iklan yang bisa jadi menyesatkan.